Sunday, September 23, 2007

JURAIDA

“Perdamaian Itu Mahal Harganya.”

Anaknya telah tertembak. Juraida pun tidak mengetahui siapa pelakunya. Apa itu tentara pemerintah atau tentara pemberontak. Yang dia dengar kabar pelakunya membawa senapan laras mematikan. Jenisnya menyerupai AK 16. Orang dikampungnya pun tidak berani mengungkit siapa pelakunya. Penyebabnya, kematian akan menyusul jika mengungkit-ngungkit setiap kabar pembuhunan.

Karena itu, Juraida hanya pasrah dan terpaksa merelakan kematian buah hatinya. Yang dia ingat, suasana malam kejadian itu sangat mencekam. Lampu petromak secara tiba-tiba mati. Sepertinya dia tidak sadar bahwa suasana mencekam itu merupakan pesan dari Tuhan yang setia kepadada dirinya.

Suasana gelap gulita. Bulan pun yang biasanya menampakkan dirinya disela-sela kegelapan. Terlihat bersembunyi dibalik awan hitam kegelapan. Dia seakan enggan menyaksikan apa yang bakal terjadi. Diam seribu bahasa. Sunyi senyap. Kesunyian semakin mencekam ketika tiba-tiba Juraida mendengar langkah orang dewasa menggunakan sepatu PDH menghampiri rumahnya. Plak-plak suara sepatu itu sangat terdengar. Memeningkan telinga. Suara itu mendekat. Semakin mendekat. Entah mengapa, Juraida merasa ketakutan. Membangunkan adrenalin dari tidurnya. Jantung Juraida berdebar-debar.

Darah mengalir deras dari telapak kaki hingga ke ubun-ubunya. “Mana anakmu,” kata salah seorang dari mereka sambil berteriak. Badannya tegap bak tentara dimedan perang. Tinggi badannya mencapai 168 CM. Dia hanya menggunakan kaos berwarna hitam. Mungkin itu komandan. Atau prajuritnya. “Dia sudah tidak ada disini,” jawab Juraida. “Jangan berbohong kamu. Akan kami tembak kamu jika berbohong,” kata orang itu dengan nada mengancam sambil meletakan ujung senjata laras panjang ke depan muka Juraida. Kalimat itu bukan membuatnya takut. Tetapi membuat muak.

Ya muak. Mereka berbuat seenaknya. Hanya dengan modal senjata laras panjang. “Cepat katakan.” “Cepat katakan, katakan”. Kalimat itu berulang-ulang dikeluarkan dari mulut yang bau busuk para lelaki berbadan tegap. “Ampun saya tidak tahu.” “Dia sudah tidak ada disini,” kata Juraida, dengan maksud orang-orang biadap itu cepat pergi.

Karena merasa kesal, mereka langsung menggeledah rumah Juraida. Semua isi rumah dikeluarkan. Diubrak-abrik. Mata-mata para pria berbadan tegap terlihat melotot. Mengamati semua isi rumah dan gerak-gerik yang dianggap mencurigakan. “Dimana kau sembunyikan anakmu,” kata orang itu sambil mendorong Juraida, hingga tubuh Juraida terjatuh ke lantai.

Orang itu kembali meletakkan moncong senjata AK 16 itu ke muka Juraida. “Tembak saja kalau dia melawan,” kata yang lainnya sambil sibuk mengacak-acak isi lemari pakaian Juraida. Juraida hanya bisa diam. Beruntung, anak Juraida tidak terbangun dari tidur. Dia seakan menghiraukan kedatangan para orang-orang yang memuakkan itu. “Bakar saja,” kata orang berbadan tegap lainnya.

Juraida langsung bersujud bak hamba sahaya menghadap tuannya, dan dengan nada mengemis Juraida berkata, “Mohon jangan bakar rumah aku.” “Ampuni aku, dia sudah pergi,” katanya. “Jangan bohong kamu,” kata salah satu orang berbadan tegap itu. “Dimana dia bersembunyi.” “Cepat katakan, atau aku tembak kamu,” katanya lagi. Juraida kembali dia tidak berkutik seperti seekor tikus dihadapan harimau.

Melihat buruannya tidak ada. Mereka langsung pergi. Perlahan-lahan suara sepatu mereka hilang ditelan malam. Dikeheningan malam, Juraida mendengar suara tembakan. Dor, dor, dor. Suara besi mematikan itu beberapa kali terulang. Entah itu berasal dari mana. Hampir setiap malam suara besi mematikan itu terdengarnya. Disela-sela itu, Juraida mendengar jeritan seorang lelaki yang kesakitan. Sepertinya lelaki itu telah tertembak. Entah itu siapa namanya. Hanya jeritan yang bercampur dengan suara jangkrik dan angin malam. Perlahan-lahan suara tembakan itu hilang. Hati juraida sedikit tenang.

Dalam hatinya, Juraida berbisik, malam ini, rumahnya yang menjadi sasaran. Malam itu dewa keberuntungan masih berpihak padanya. Rumahnya tidak dibakar. Padahal, setiap penggerebekan selalu berujung pada pembakaran rumah korban. Anaknya masih selamat. Masih bisa menjalani hidup, setidaknya hingga esok hari. Sejak konflik meletus, malam telah berubah menjadi sebuah mimpi buruk bagi para penduduk kampung. Mimpi buruk yang selalu menghantui setiap saat. Yang harus dilalui setiap hari. Entah sampai kapan mimpi buruk itu hilang. Konflik membuat ‘kehidupan malam’ terhenti. Kampung menjadi mati. Bagai tak berpenduduk. Aktifitas pengajian terhenti total. Masjid dan surau menjadi bangunan tak bertuan. Hanya binatang malam saja yang bebas beraktifitas.

***
Bunyi ayam jantan membuat Juraida terbangun. Bunyi itu membuat waktu mimpi buruk perlahan-lahan hilang. Seperti mimpi buruk Sangkuriang yang tidak bisa menyelesaikan istana megah untuk sang pujaan hatinya. Ya begitulah Juraida. Dan penduduk kampung. Malam itu dia terhindar dari mimpi buruk mematikan. Mimpi buruk yang membuat nyawa kembali kepada yang penguasa jasad raya. Kabut malam perlahan musnah ditelan sinar matahari. Embun pagi membasahi tumbuh-tumbuhan. Terasa sangat segar dan dingin. Embun dari pegunungan. Itu jatuh dari pegunungan. Rumah Juraida memang tepat di kaki pegunungan. 70 KM dari pusat kota Sigli. Salah satu kota kecil di wilayah Aceh. Di perkampungan itu, hanya 20 KK saja yang menetap. Mereka semua ini yang tersisa dan ingin tetap bertahan tingal, meski sering kali daerah ini sering terjadi baku tembak antara tentara pemberontak dan pemerintah. Sejak daerah ini dijadikan salah satu daerah sasaran target tentara pemerintah. Banyak penduduk yang pindah ke Sigli.


Juraida melihat buah hatinya masih terlelap tidur. Ana namanya. Nama yang singkat dan padat. Nama itu diberikan dari kakeknya. Katanya nama itu diambil dari dua kata A dan Na, yang berarti pertama dan ada. Pertama dan ada untuk selama-lamanya. Pertama dan tetap ada meski konflik berdarah berlangsung. Dia masih jelita. Dia telah menjadi yatim sejak suaminya diculik puluhan orang berbadan tegap setahun lalu. Ah sudahlah, kalau diingat, mimpi buruk akan datang kembali di pikirannya. Juraida tidak ingin menodai kesucian pagi ini. Hanya karena mengingat orang-orang menjijikan yang menculik suaminya.

Berniat membangunkannya, telapak tangan lembut Juraida menyentuh pipi Ana. “Ana, cepat bangun,” kata Juraida. “Cepat. Sinar mentari sudah mulai muncul,” katanya. Sentuhan tangan lembut itu membuat Ana membuka matanya. “Ayo bangun, tidak bagus masih terus tidur. Lihat embun ini, dia memanggilmu untuk agar segera disentuh,”katanya kembali. “Hmm,” kata Ana sambil membalikkan tubuhnya dan duduk ditempat tidur. Cepat-cepat Juraida mengajak Ana ke perkarangan rumah. Ini dia lakukan setiap pagi. Telapak tangan lembut Ana menyapa bunga-bunga yang dipenuhi air embun. Bunga-bunga itu seperti menyambut sapaan Ana. Bunga itu mekar seperti sedang tersenyum kepada Ana. “Mak aku lapar.” Sapaan itu membuat Juraida bingung. Beras telah habis. Ketela pun habis. Semua persediaan makanan habis. Tak ada sisa yang bisa dimakan buah hatinya. Orang-orang berbadan tegap itu membuat Juraida miskin. Juraida tidak kuat mendengar anakku lapar. Hatinya menjerit. Dia tidak ingin buah hatinya mati kelaparan.

Kedua kaki Juraida dipaksa untuk bergegas menuju ke rumah Cut, tetangganya. Seperti fakir miskin, Juraida mengemis minta sesuatu yang bisa dimakan Ana. “Ada sesuatu yang bisa dimakan Cut,” kataku kepada Cut tetangganya. Dia memberi Juraida dua batang ketela. Ya ini sudah cukup untuk mengisi perut mungil Ana. Ketela itu dia masak. Ana makan dengan lahapnya. Tanpa tahu dari mana asal-usul ketela itu.

***

Ditemukan mayat ditengah hutan. Lagi-lagi mayat ditemukan. Berita itu hampir setiap hari didengar orang-orang kampung. Tak asing. Tinggal siapa wujud mayat yang diberitakan itu. Apakah penduduk kampung, atau bukan. “Reda anakmu Maliki ditemukan di hutan,” kata Cut dengan terhengah-tengah. Awalnya Juraida tidak percaya. Beberapa bulan lalu, Maliki pamitan kepada ibunya untuk pergi ke Jakarta. Dia membawa bekal untuk merantau ke tanah Jawa. “Aku melihat anakmu ditemukan orang-orang kampung yang tengah ke hutan,” kata Cut sambil menarik nafas.

Mayat itu dibawa ke balai kampung. Ditanya satu persatu penduduk kampung. Mayat itu masih mengeluarkan darah segar. Juraida dan Cut bergegas ke balai kampung. Di rumah Cut ada anak lelaki yang seumuran dengan Ana. Ana dia titipkan di rumah Cut. Benar. Mayat itu Maliki. Ada luka tembak di badannya. Timah panas membuat nyawa Maliki menyusul bapaknya. Mimpi buruk itu kembali menghantui Juraida.* (Meulaboh, Mid February 2006, muhamad istijar nusantara)